Monday, 18 January 2016

Binjai

Sejarah
Binjai berasal dari India. Binjai menyebar secara alami di 
SumatraJawaKalimantan dan Semenanjung Malaya; sebagian pakar meyakini Kalimantan adalah lokasi asal-usulnya. Dari wilayah-wilayah ini, binjai dibawa dan dibudidayakan orang di BaliFilipina dan Thailand, serta agak jarang di Jawa bagian barat.
Binjai terutama menyebar di dataran rendah di bawah 400 m, jarang hingga 800 m dpl. Jenis ini tahan terhadap penggenangan, dan seringkali didapati dekat tepi sungai. Binjai dapat bertumbuh pada tanah yang subur dan mempunyai drainase yang baik.

Manfaat
Binjai terutama ditanam untuk buahnya, yang biasa dimakan segar setelah buah itu masak atau dijadikan campuran es. Binjai juga digunakan sebagai campuran sambal, terutama untuk masakan ikan sungai. Buah binjai yang masih muda tak dapat dimakan karena duhnya sangat tajam dan menggatalkan. Bijinya kadang-kadang dikeringkan dan diolah sebagai lauk makan nasi.
Kayu binjai dapat digunakan sebagai papan lantai dan bahan konstruksi ringan. Buahnya yang sudah matang bisa dimakan dalam keadaan segar dengan dikupas terlebih dahulu. Setelah itu, pucuk daun yang masih muda dimakan sebagai lalap. Karena saat berbunga, dia mempunya tajuk yang indah sekali; mungkin binjai dapat dipergunakan sebagai tanaman penghias jalanan.

Manfaat
Setiap 100 g bagian yang dapat dimakan mengandung:
1.    86,5 g air
2.    1 g protein, protein bisa untuk membentuk antibodi sehingga membantu tubuh untuk membasmi virus dan bakteri
3.    0,2 g lemak
4.    11,9 g karbohidrat (termasuk serat) serat juga membantu mengatasi sembelit
5.    0,4 g abu
6.    0,08 mg tiamin, membantu dalam fungsi tubuh termasuk aktivitas saraf dan otot
7.    0,005 mg ß-karoten salah satu kandungan yang diperlukan untuk melindungi kesehatan mata
8.    5 8 mg vitamin C bisa untuk membantu kesehatan gigi dan gusi
9.    energinya 200 kJ/100 g

No comments:

Post a Comment